Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri empat hari perdagangan beruntun dalam tekanan, ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (29/7) sore. Penguatan ini terjadi di tengah volatilitas pasar yang tinggi, dengan pelaku pasar global mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta menanti arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Mata uang Garuda terapresiasi sekitar 0,06% setelah sempat melemah signifikan pada sesi pagi, bahkan menyentuh level psikologis Rp 18.100 per dolar AS. Pergerakan intraday yang fluktuatif ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap sentimen eksternal. Indeks dolar AS (DXY) sendiri terpantau melemah, memberikan sedikit ruang bagi mata uang Asia untuk bernafas.
Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama kehati-hatian investor. Eskalasi konflik setelah peluncuran rudal balistik yang menyasar pasukan AS, meskipun berhasil dicegat, kembali memicu kekhawatiran geopolitik. Situasi ini diperparah dengan kebuntuan diplomasi terkait Selat Hormuz dan ancaman terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi. Konflik ini secara historis selalu memicu permintaan aset aman seperti dolar AS dan berdampak pada harga komoditas, terutama minyak, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi inflasi global dan kebijakan moneter.
Selain itu, fokus pasar tertuju pada pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dini hari Kamis WIB. Keputusan mengenai suku bunga The Fed akan menjadi penentu arah pasar ke depan, dengan spekulasi kenaikan sebesar 25 basis poin masih menghantui, meskipun harapan diplomasi AS-Iran sempat meredakan kekhawatiran inflasi dan taruhan kenaikan suku bunga. Investor akan mencermati tidak hanya keputusan suku bunga, tetapi juga pernyataan The Fed untuk mencari petunjuk mengenai jalur kebijakan moneter di masa mendatang.
Dari sisi domestik, sentimen pasar juga turut dipengaruhi oleh dinamika politik dan transisi kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Meskipun ada isu terkait tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan, BI secara konsisten menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prasyarat fundamental bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank sentral terus memperkuat bauran kebijakan moneter melalui triple intervention di pasar valuta asing (spot, NDF, DNDF) serta optimalisasi instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging. Langkah-langkah ini krusial untuk menjaga stabilitas sekaligus menarik aliran modal asing ke pasar domestik, termasuk ke pasar obligasi dan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif, dengan potensi pelemahan tipis.
