Harga minyak mentah global melonjak tajam pada Senin (20/7/2026), menembus level psikologis US$90 per barel, menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Ketegangan yang memanas ini, terutama di sekitar Selat Hormuz yang krusial, seketika mendorong Dolar AS menguat sebagai aset safe-haven, menekan harga emas, dan menyebabkan Rupiah kembali melemah di pasar valuta asing.
Lonjakan harga minyak ini menjadi respons langsung pasar terhadap laporan bahwa Iran telah menangguhkan komitmennya di bawah kesepakatan perdamaian sementara, di tengah berlanjutnya serangan AS terhadap Iran. Sebaliknya, Kuwait dan Bahrain juga melaporkan adanya serangan baru dari Iran. Washington dikabarkan tengah menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan menindak kapal yang dianggap melanggar aturan pelayaran di Selat Hormuz. Minyak mentah Brent tercatat menguat signifikan di atas US$90 per barel, mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak April, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga melesat tajam.
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan energi global, di mana sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasinya. Gangguan sekecil apa pun di jalur pelayaran ini berpotensi besar memengaruhi pasokan global dan memicu lonjakan premi risiko. Data menunjukkan aktivitas pelayaran di selat tersebut mulai melambat, menambah kekhawatiran pasar akan potensi kendala pasokan. Kondisi stok minyak global yang saat ini berada pada level paling ketat dalam lima tahun terakhir semakin memperparah dampak dari gangguan di Timur Tengah.
Di sisi lain, penguatan Dolar AS terpantau stabil terhadap sebagian besar mata uang utama dunia, termasuk Yen, Euro, Dolar Australia, dan Dolar Selandia Baru. Penguatan ini tidak hanya didorong oleh permintaan aset safe-haven, tetapi juga antisipasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang. Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren penguatan di level 6.226, meski Rupiah terpantau masih melemah di kisaran Rp 17.970 per Dolar AS. Namun, berbeda dengan ekspektasi umum, harga emas justru tertekan, kemungkinan besar akibat kuatnya Dolar AS yang mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai.
Eskalasi konflik ini berpotensi memicu volatilitas yang lebih tinggi di pasar komoditas dan mata uang. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia akan menjadi tantangan tersendiri, terutama terkait subsidi energi dan inflasi, di tengah pelemahan Rupiah. Investor institusional dan fund manager perlu mencermati perkembangan geopolitik ini secara saksama, mengingat dampaknya yang luas terhadap biaya produksi, daya beli, dan kebijakan moneter ke depan.
